Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, Desember 23, 2010

5 Kelemahan Guru Di Indonesia

Posted by rhonie Kamis, Desember 23, 2010, under | No comments

Guru memang kata yang patut kita tujukan pada seseorang yang senantiasa membimbing kita ke arah yang lebih baik dan tulisan ini memberikan sebuah gambaran bahwa tidak semua guru itu memiliki keistimewaan dalam menjalankan tugasnya di kelas. Guru juga hanya seorang manusia biasa sama seperti kita, harapan penulis dalam artikel ini adalah agar bisa menjadi input bagi para guru untuk memperbaiki kegiatan pembelajarannya.
Dari pantauan penulis, ada beberapa kelemahan guru yang perlu diantisipasi dalam melakukan proses pembelajaran. Dintaranya: 1. Guru tidak menggunakan RPP sebagai pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran
RPP adalah skenario pembelajaran yang dibuat oleh guru sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai. Dalam dokumen tersebut tidak hanya berisi kompetensi apa yang akan dicapai tetapi juga memuat secara rinci berapa lama waktu tatap muka dilakukan. Bahkan dirinci pula berapa menit kegiatan awal untuk melaksanakan kegiatan rutin, apersepsi dan penjajagan untuk mengenal bekal awal siswa. Waktu yang digunakan untuk kegiatan inti, dan rincian waktu untuk kegiatan akhir.
Dalam RPP juga tercantum secara jelas alat bantu mengajar apa yang diperlukan dan sumber belajar apa yang digunakan. Demikian pula di dalam RPP juga telah dicantumkan rencana kegiatan penilaian yang merupakan upaya untuk mendapatkan umpan balik keberhasilan guru dalam mengajar.
Kenyataannya RPP tidak difungsikan, bahkan ada guru yang mengajar tanpa bertpedoman pada RPP. Hal ini menyebabkan kegiatan pembelajaran tidak terarah.
2. Guru tidak mempersiapkan alat bantu mengajar.
Alat bantu mengajar sangat diperlukan untuk membantu guru dalam menjelaskan materi pelajaran, sehingga siswa mengetahui secara nyata melalui benda-benda yang nyata. Dengan alat bantu ini pengetahuan tidak hanya berupa verbal, dan bisa mengatasi kesenjangan komunikasi guru dengan siswa.
Kenyataannya guru tidak membawa alat bantu mengajar sehingga yang dilakukan hanyalah ceramah-dan ceramah saja.
3. Guru kurang memperhatikan kemampuan awal siswa.
Pengetahuan ten tang kemampuan awal siswa diperlukan oleh guru untuk menetapkan strategi mengajar, bahkan untuk mengajukan pertanyaanpun diperlukan pemahaman tentang kemampuan awal siswa. Dengan memahami kemampuan awal siswa ini guru dapat membantu siswa memperlancar proses pe,mbelajaran yang dilkukan dan memperkecil peluang kesulitan yang dihadapi siswa. Adakalanya satu materi tertentu memerlukan prasarat pengetahuan sebelumnya. Jika pengetahuan prasyarat ini belum dikuasi dan guru sudah melanjutkan pada materi berikutnya bisa dipastikan bahwa siswa akan kesultan mengikuti pelajaran. Hal ini bisa dideteksi melalui perilaku siswa. Siswa yang tidak dapat mengikuti materi yangs edang dibahas oleh guru cenderung berperilaku “menyimpang” seperti: melamun, menulis atau menggambar yang tidak ada hubungannya dengan materi pelajaran, berbicara sendiri atau kegiatan-kegiatan lain yang tidak terkait dengan isi pembelajaran.
4. Penggunaan papan tulis yang kurang tepat
pada umumnya guru langsung memulai pelajaran tanpa menuliskan Pokok persoalan yang akan dibahas dan tujuan pembelajarannya. Penulisan pokok bahasan dan tujuan pembelajaran ini bergna sebagai kontrol bagi guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar agar tidak keluar dari jalur. Kecenderungan lainnya adalah penggunaan papan tulis yang kaacau. Siswa tidak tahu apa sebenarnya yang dibahas, dan untuk apa hal itu dibahas. Guru terlalu sibuk menulis dan membuat ilustrasi di papan tulis yang kadang-kadang sulit ditangkap siswa dan tidak disimpulkan.
5. Tidak melaksanakan evaluasi
Dengan alasan kekurangan waktu seringkali guru tidak melaksanakan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. Evaluasi ini bertguna bagi guru untuk mengetahui seberapa besar keefektifan pembelajaran yang dilakukannya. Dengan melakukan evaluasi pada setiap akhir kegiatan /bahasan akan bisa mendeteksi siswa mana yang masih kesulitas dan pada bagian apa siswa merasa sulit. Hal ini akan sangat berguna bagi guru dalam membantu siswa
Apabila 5 macam kelemahan guru ini dapat diperbaiki, maka peoses pembelajaran akan menjadi lebih bermutu dan muaranya nanti pada hasil belajar yang lebih baik. Perubahan pada kelima kelemahan tersebut tidak memerlukan biaya. Yang diperlukan hanyalah kesadaran diri untuk memberikan yang terbaik kepada siswa. Kepala sekolah dapat berperan dalam perbaikan proses pembelajaran ini dengan cara lebih sering melaksanakan supervisi kunjungan kelas.

15 Milyar Untuk Penuntasan Buta Aksara

Posted by rhonie Kamis, Desember 23, 2010, under | No comments

Buta Aksara (BA) memang menjadi masalah bagi pemerintah khususnya, karena manusia merupakan aset daerah yang perlu dibina segi mental dan fisiknya. Di Kalimantan Timur, menganggarkan Rp1,5 miliar untuk program penuntasan buta aksara pada 2011 mendatang. Anggaran tersebut naik Rp520 juta dari anggaran sebelumnya, yang hanya Rp 980 juta.

"Anggaran ini diperuntukan kepada 18 ribu warga Kukar yang masih mengalami buta aksara," kata Kasi Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) Dinas Pendidikan Kukar Syaiful Anwar, Kamis (23/12).

Dia menjelaskan pemberantasan buta aksara sangat penting karena berhubungan dengan aspek kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan dan ketidakberdayaan.

Oleh sebab itu, program tersebut di Kukar menjadi prioritas.

Untuk mewujudkan itu, pihaknya mengalokasikan dana penyelenggaraan Keaksaraan Fungsional (KF) kepada 212 kelompok.

Satu kelompok terdiri dari 10 orang dengan alokasi anggaran masing-masing sebesar Rp6,5 juta atau totalnya mencapai Rp1,5 miliar.

"Ini semua adalah komitmen pemerintah untuk menuntaskan buta aksara di Kukar," ujarnya

Dia mengakui pemberantasan buta aksara di Kukar terkendala masalah fisik, terutama penglihatan yang sudah berkurang.

Orang dewasa pada umumnya lebih menyukai pendidikan yang sifatnya berhubungan dengan pekerjaan dan keterampilan hidup.

Makanya, strategi pemberantasan buta aksara dengan menggunakan dua pendekatan dalam program tersebut, yaitu pendekatan vertikal yang lebih memfokuskan melalui penggunaan struktur pemerintah untuk memobilisasi semua segmen masyarakat.

Upaya lainnya, melalui pendekatan horisontal dengan menggalang kerja sama dengan berbagai institusi seperti organisasi keagamaan, perempuan, pemuda, pondok pesantren, pusat kegiatan belajar mengajar (PKBM) serta organisasi lainnya. Selain itu, kerja sama dengan perguruan tinggi (PT), antara lain dengan kuliah kerja nyata (KKN) dan program tematik pemberantasan

buta aksara.

"Pendekatan ini diharapkan lebih efektif dan efisien, karena melibatkan peran serta institusi pemerintah hingga tingkat desa sampai ke tingkat rukun tetangga," katanya.

Download